Rabu, 07 Desember 2016

Paragraf dan Kutipan



Paragraf

Saat ini mencari pekerjaan sangatlah sulit. Hal ini dikarenakan minimnya jumlah lapangan pekerjaan dibandingkan dengan jumlah para pencari kerja. Jumlah orang-orang yang mencari kerja ini meningkat setiap tahunnya akibat dari meledaknya jumlah penduduk, sayangnya peningkatan ini tidak diikuti dengan bertambahnya jumlah lapangan kerja. Akibatnya pengangguran terjadi di mana-mana. Bahkan kini tidak hanya mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi saja, tetapi para sarjana pun mulai kesulitan untuk mencari sebuah pekerjaan yang layak dikarenakan minimnya lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, banyak sekali para pencari kerja yang menjadi pengangguran.

Kutipan

Gelombang demokratisasi yang ada di dunia ini bisa dibagi menjadi tiga periode, yakni demokratisasi gelombang pertama yang berlangsung antara 1828-1926, demokratisasi gelombang kedua yang terjadi antara 1943-1962, dan demokratisasi gelombang ketiga yang dimulai dari tahun 1974 sampai tahun1990-an (Huntington 1991).

Senin, 14 November 2016

ita purnama sari D7



d7 
“KELUMBIK ADALAH KAMPUNG TERCINTAKU”
Asrinya Pedesaan. (Foto: kilaubiru.wordpress.com)

Kelumbik kampung kelahiranku.Kampung kecil yang jumlah penduduknya sekitar dua ratus jiwa.kampung ini adalah sebuah desa yang dinamakan desa karya jawa bakti. Warga kampung kelumbik  mayoritasnya agama protestan di kampung kelumbik memiliki sebuah gereja yang namanya gereja genezaret kelumbik selain agama protestan ada juga agama islam.warga masyarakat kampung kelumbik selalu bekerja sama baik dalam kegiatan gotong royong dan masih sangat memiliki rasa kepedulian terhadap sesama yang besar.hal ini terlihat saat memperbaiki jalan dan membantu warga yang kesusaha. 

Hasil gambar untuk gambar pedesaan


 

Pada bulan januari tanggal satu biasanya masyarakat kampung kelumbik merayakan tahun baru dengan beribadah di gereja,perayaan ibadah biasanya di mulai pukul 07.00  sampai pada mendekati pergantian tahun baru setelah ibadah biasanya di adakan doa bersama dan menyalaan api unggun setelah itu para pemuda-pemudi berjalan membawa obor mengeliling kampung kelumbik  hal ini setiap tahunyan dilakukan oleh masyarakat kelumbik dan sudah menjadi sebuah tradisi.pada perayaan paskah biasanya masyarakat kelumbik mengadakan ibadah paskah yang biasanya dibagi menjadi dua yaitu ibadah perayaan paskah umu dan perayaan paskah sekolah minggu,peraaan paskah sekolah minggu itu khusus untuk anak-anak yang umurnya duabelas tahun ke bawah atau yang masih sd dan parayaan paskah umum itu untuk bapak-bapak,ibi-ibu,muda-mudi juga anak-anak sekolah minggu.Masyarakat keumbik juga  melaksanakan ibadah ucapan syukur atas hasil panen yang di peroleh setiap warga masyarakat kelumbik,ucapan syukur ini dilakukan setelah ibadah perayaan paskah umum selesai.Pada bulan juni masyarakat kelumbik mengadakan gawai dayak yang menjadi tradisi warga kelumbik,gawai dayak ini biasanya diadakan setelah seluruh anak sekolah sudah libur agar lewat gawai dayak ini orang tua dapat bertemu dengan anaknya yang bersekolah atau kuliah jauh oleh sebab itu gawai dayak ini sangat dinanti-nantikan oleh warga masyarakat kelumbik. Sebulah sebelum gawai dayak masyarakat kelumbik biasanya membuat yang namanya tuak.Tuak ini adalah sebuah minuman yang terbuat dari beras ketan yang capur dengan ragi pembuatan tuak ini sekitar satu minggu, agar air tuak  tersebut betambah banyak maka bisa dibiarkan lebih lama dari itu setelah itu baru diperas,minuman tuak ini adalah minuman yang selalu dibuat pada saat gawai dayak dan juga pasta penikahan.gawai dayak merupakan pasta dimana warga masyarakat sudah memanen padi dan sudah bersyukur atas panen padi tersebut.Pesta gawai dayak ini biasanya mengundang band dan biduan-biduan untuk memeriahkan gawai dayak dan  menghibur seluruh masyarakat karena pada saat gawai dayak bukan hanya warga kampung kelumbik yang memeriahkannya warga kampung lain juga datang untuk ikut memeriahkan dan bertemu dengan keluarga yang ada di kampung kelumbik begitu juga sebaliknya warga masyarakat kelumbik juga datang saat warga kampung tetangga melaksanakan gawai dayak.warga masyarakat kelumbik bergotong royong saat pembuatan ladang dan menanaman padi ini merupakan sebuah kebersamaan yang warga kelumbik. Setelah gawai dayak masyarakat kelumbik juga mengadakan perayaan natal pada bulan desember,perayaan natal biasanyan di bagi lagi yaitu, perayaan natal bersama,perayaan natal umum,perayaan natal remaja dan perayaan nal pemuda-pemudi perayaan natal ini di laksanakan pada bulan desember dan pada tanggal yang berbeda.Ibadah perayaan natal umum biasanya diadakan pada malam dan pagi hari.  Sesudah seluruh ibadah dilaksanakan maka seluruh masyarakat kampung kelumbik saling berkunjung ke rumah warga yang lain nya dan saling menjamu dengan hidangan yang di sediakan ini merupakan perayaan keagamaan yang paling merih bagi warga kampung kelumbik. Ini merupakan kegiatan yang di laksanakan oleh warga kampung kelumbik setiap tahun dan sudah menjadi tradisi warga kelumbik.

Hasil gambar untuk gambar pedesaan

 


Harapan ku warga masyarakat kelumbik selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan dan rasa kepedulian agar kampung kita tetap berkembang menjadi kampung yang baik dan menjadi warga masyarakat yang bisa bekerja sama.Masyarakat kelumbik jadilah masyarakat yang bisa dipimpin dan melaksanakan kewajiban sebagai masyarakat yang baik.

Rabu, 09 November 2016

bukit kelam




 Hasil gambar untuk sejarah bukit kelam dan gambarnya
Tersebutlah di Sintang, Kalimantan Barat, seorang pemimpin sakti bernama Sebeji atau disebut Bujang Beji. Yang sayangnya, memiliki berkarakter buruk. Bersama para pengikutnya, Bujang Beji tinggal di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Kapuas. 

Hasil gambar untuk sejarah bukit kelam dan gambarnya
Berkebalikan dengan Bujang Beji, di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Melawi, tinggal seorang pemimpin bijak berkarakter baik bernama Temenggung Marubai. Semua tindak-tanduknya didasarkan pada kebaikan dan manfaat semua pihak.


Karakter buruk yang melekat pada Bujang Beji membawa hatinya pada rasa iri. Begitu dengki Bujang Beji saat anak buahnya melaporkan bahwa ikan-ikan di Simpang Melawi jauh lebih berlimpah jumlahnya dibandingkan Simpang Kapuas. Tentu saja, ini lantaran cara menangkap ikan yang diterapkan kedua pemimpin ini berbanding terbalik. Bujang Beji dalam tiap tangkapan selalu berusaha mendapatkan ikan banyak tanpa peduli ikan besar dan ikan kecil. Sedangkan, Temenggung Marubai mempunyai trik yang berbeda. Ia selalu memisahkan ikan besar dan ikan kecil dalam tangkapannya. Ikan besar diambilnya, ikan kecil dikembalikannya ke sungai ditunggu sampai besar baru ditangkap kembali.

Dilaporkan begitu bukannya membuat Bujang Beji berpikir melakukan cara yang sama dengan Temenggung Marubai. Hal pertama yang dipikirkan Bujang Beji adalah bagaimana menyangi Temenggung Marubai. 


Hal ini memberi ide kepada Bujang Beji untuk menangkap ikan dengan menabur menuba (sejenis racun ikan). Pada awalnya, hasil ikan tangkapan Bujang Beji jauh melimpah dibandingkan Temenggung Marubai. Bujang Beji pun boleh sombong diri. Hanya saja, akibat menuba yang ditabur setiap hari, lama kelamaan ikan-ikan di Simpang Kapuas semakin menipis. Kebanyakan sudah ditangkap, sisanya mati membusuk. Bujang Beji pun menghentikan aksinya sebelum semuanya terlambat. 


Ia memikirkan langkah selanjutnya, yaitu menjatuhkan Temenggung Marubai. Setelah dipikir-pikir, ia harus mengurangi jumlah ikan yang ada di Simpang Melawi. Caranya, ia akan menutup aliran di hulu Simpang Melawi dengan batu besar. Saat aliran air terbendung secara otomatis ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.  


Bujang Beji memilih puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Demi mengangkatnya, Bujang Beji mengeluarkan kesaktiannya hanya berbekal tujuh lembar daun ilalang.


Di tengah perjalanan, Bujang Beji ditertawai oleh bidadari yang melihat perbuatannya. Tentu Bujang Beji dongkol bukan kepalang. Ketika hendak sampai di persimpangan Kapuas - Melawi, Bujang Beji melihat ke atas. Ia ingin meludahi wajah cantik para bidadari yang tengah mengejeknya. Belum lagi ia melakukan itu, rupanya kaki Bujang Beji menginjak duri. Ia pun berjingkat-jingkat.


Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak Bukit Batu terputus. Alhasil, puncak Bukit Batu jatuh dan tenggelam di sebuah rantau, yang disebut Jetak. Geram betul tampaknya Bujang Beji ketika menatap wajah para bidadari yang masih menertawakannya.


”Awas, kalian! Tunggu pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada para bidadari kahyangan tersebut, sambil mencukil duri dari kakinya. ”Enyah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji, perasaannya marah.


Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.


Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu (sejenis pohon kayu raksasa yang menjulang tinggi ke langit) yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.


Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.


Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.


”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.
”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,”

 jawab Raja Beruang.”Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.

”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.


Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.


Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.


”Kretak... Kretak... Kretak... !!!”


Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.


”Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.


Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.
                                              
Hasil gambar untuk gambar bukit rentap
Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.

itasarry columdacca

SpongeBob SquarePants